Wednesday, October 21, 2009

Rawon Tujuh Rupa

Dunia kuliner memang kaya Inovasi bahkan bisa menaikkan sajian lokal ke kelas yang lebih tinggi. Rawon aja, bisa tampil tujuh rupa.

Saya terkesan bener, dengan pelaku kuliner yang mampu menghasikan makanan kreatif. Seperti menu rawon. Rawon…yeah blacksoup from east Java. Kuahnya hitam pekat, buat sebagian orang mungkin rada aneh. Itu awalnya….. coba kalau sudah makan. Wuahh….Miyabi lewat aja, bisa dicuekin.

Warna hitamnya eksotik, lho. Soalnya bukan karena kecap yang warnanya lebih pekat, atau pake petis udang. Tapi pake kluwek. Bentuknya kayak kerikil jaman prasejarah. Kalau beli, mesti digoyang-goyang, mungkin dulunya kluwek ini punya kebiasaan dugem. Hihihihi….

Ternyata olahan rawon tidak selalu menggunakan daging sapi sebagai bahan utamanya. Singgasana resto, mengolah hidangan khas Jawa Timur ini menjadi banyak pilihan yang dijamin bisa memuaskan selera. Rawon ala Singgasana ini memberikan tampilan berbeda. Dengan kuah yang sama, tapi bisa memilih isian yang berbeda.

Ada rawon daging sapi, kikil sapi, kikil kambing, buntut sapi, iga sapi, jeroan ati dan rawon vegetarian. Sebagai pelengkap menyantap rawon, juga disediakan, tempe goreng, telur asin, tauge pendek, kerupuk dan sambal terasi.

Hmm… bingung khan mau makan yang mana ? Saya pun menjatuhkan pilihan Rawon Kikil Kambing. Alasannya, kalau daging sapi sudah biasa, lha ini kikil kambing yang sering dibuat sop, dijadikan Rawon !Ternyata rasanya nggak jomplang ,lho. Ada kejutan yang muncul dalam setiap gigitan, sedapnya bumbu ulek, terasa hingga ke dalam kikil, ditambah harumnya, daun salam, daun jeruk dan serai membuat aromanya makin mantep. Ini merupakan keselarasan yang sempurna.

Si Anton, memilih rawon vegetarian. Bahan rawon vegetarian, tidak ada irisan daging maupun lemak pada rawon, tapi diganti dengan sayur-sayuran. Irisan daging diganti dengan kubis, wortel, tahu, dan manisa (labusiam). Sebagai tambahan juga ditambahkan daging sintetis yang diolah dari saripati tahu.


Anton betul-betul menghayati setiap suapan yang masuk, ini bukan karena dia seorang vegan, ternyata menyangkut kenangan di masa kecilnya.
"Jaman aku kecil, ibuku nggak bisa beli daging, akhirnya diakali, kalau bikin rawon, dagingya diganti pake Tahu !” kata Anton mengingat memori saat berebut makan daging tahu, bersama tiga orang kakaknya di sebuah desa di Ponorogo. Oalaaa…emaknya kreatif banget yah.

7 items of Rawon
Singgasana Hotel Surabaya
Jl Gunungsari

Saturday, October 17, 2009

Lontong Banyu Urip

Brader, jangan pandang sebelah mata Lontong ! Tanpa lontong, maka tebak-tebakan, bahasa Inggrisnya, nasi panjang nggak akan pernah ada.



Lontong mungkin sama pentingnya dengan nasi. Kalau dipikir, tanpa lontong, maka tidak banyak makanan tradisional tercipta. Sebut saja, gado-gado, lontong balap, lontong kupang, rujak cingur, lontong mie, lontong kikil, lontong lodeh, lontong sayur, lontong cap gomeh dan banyak makanan lain yang menggunakan lontong di dalamnya.


Pernahkah terbersit rasa penasaran, dari manakah lontong se-antero Surabaya berasal ? Rasa penasaran inilah yang membawa saya dan Anton, ke sebuah kampung kecil di daerah Banyu Urip. Yah, di sinilah sebuah kampung di Surabaya, yang warganya mengeluti usaha pembuatan lontong sejak dari leluhur mereka.


Sebuah gang kecil, tepatnya di Banyu Urip gang II, adalah gerbang utama untuk bisa masuk ke kampung lontong. Perkampungan nan padat hanya bisa dilalui sepeda roda dua, itu pun tidak boleh dikendarai, karena ada himbauan untuk menuntun. Lumayan jauh jalannya, saya ngos-ngosan ngikutin Anton, “Mbak, kalau giliran makan aja cepat. Kalau diajak jalan kok koyok sapi manten !” hehehehe….


Setelah melewati jembatan kecil, saya pun disuguhi pemandangan eksotis. Hampir seluruh pelataran rumah bahkan pinggiran jalan, berjajar longsongan daun pisang yang dijemur. Melongok ke dalam rumah, ruang tamu penduduk di sini ibarat lautan daun pisang. Tumpukkan daun pisang terlihat di segala sudut.


Lontong memang terlihat sederhana, nyatanya perlu kesabaran tinggi untuk mengolahnya. Beras yang dibersihkan dari kotoran, sebelumnya sudah dicuci, lalu dikeringkan.Proses pematangan beras menjadi lontong ternyata membutuhkan waktu 8-10 jam.


Proses memasaknya dimulai pukul lima sore hingga pukul dua pagi. “Kalau ingin lontongnya punel, dan bagus harus benar-benar tanak memasaknya,” jelas Mbah Nem, yang meneruskan usaha pembuatan lontong dari sang ibu.


Tidak semua beras bisa dijadikan bahan untuk membuat lontong. Beras yang digunakan adalah beras yang bisa mekar. Tapi itu bukan jaminan bakal jadi, karena jika beras terlalu mekar, lontong bisa pecah. Kalau tidak matang benar, lontong tidak terasa empuk. Susah khan.


Lontong yang dijual ada beberapa ukuran, dan harganya juga bervariasi. Untuk lontong berukuran kecil dijual Rp 700,- sedangkan ukuran besar Rp 1000,- . Di pedagang yang kecil biasa dijual Rp 800,- sampai Rp 1000,- sedangkan yang besar dijual kembali dengan harga Rp 1500,-.


Pembuat lontong di kampung ini tidak pernah berhenti membuat lontong, hari libur maupun hari besar aktifitas pembuat lontong di Kampung Banyu Urip berjalan seperti biasa. Bahkan Hari Raya merupakan momen yang ditunggu-tunggu, bukan karena sekedar ingin merayakan tapi di saat inilah mereka panen, dan harganya bisa menjadi tiga kali lipat. Wah... mugi-mugi kathah rejekine nggih, mbok Nem.


Saturday, October 10, 2009

GSM Versi Becak

GSM yang satu ini sinyalnya padat dan banyak lemak.


Sebagai satu-satunya perempuan di jajaran redaksi. Saya mesti legowo kalo jadi bahan ketawaan. Memang, secara gender saya minoritas, tapi soal bobot tubuh saya mayoritas (baca: paling lemu).


Ya..ya.. gara-gara urusan fisik ini, saya jadi punya banyak julukan. Saya nggak marah, lha memang kenyataannya gethu. Sabar…sabar….*sambil mbalang boto.


Ndlalalah, minggu lalu pas rapat, lha kok teman-teman nggak mbahas soal perencanaan edisi selanjutnya, malah tega ngerasani saya terang-terangan. Yaitu Enchus dan Anton


Chus : Mendol itu ibarat STNK

Anton : Wadoh opo iku ?

Chus : Setengah Tuwek Namun Kenceng .. !!!

Hehehehe...cengengesan kabeh.


Anton : Eh, Ada lagi. Mbak Mendol iku Setu Legi

Chus : Wah..opo iku ?

Anton : Setengah Tuwek Lemu Ginuk-Ginuk ..hihihii !!!

*Grhhhh…..Kurang Ajarrrrrrrr !* Nyumpel Anton pake gajih


Penyiar Becak Ter..Ter..yang ndak mbois blasss. Wakakaka....


Nah puncaknya pas House of Sampoerna ultah tanggal 10 Oktober, tiba-tiba ketemu idola saya. Duo Rambut Kriwul, Penyiar Kocak Becak Ter ..Ter.. dari JTV. Saya tiba-tiba dijawil


Ibarat hape sampeyan iku GSM," katanya sambil nyari tumo

“ Opo iku Mas ?!”

“ Hehehe…Gemuk, Semok dan Montok !”


" Huahhhhhh…. Nyemprot rambut kriwulnya pake PEDITOK !!!.


Foto : Anton

Wednesday, September 30, 2009

Oleh-oleh Bogem

Saya kagum luar biasa, di tangan seorang petani magrove. Bogem bisa diolah menjadi sirup, jenang dan kerupuk.


Begitu tahu kalau tujuan liputan saya ke Pantai Timur Surabaya, saya sudah aras-arasen. Karena cuaca benar-benar panas. Apalagi lokasinya lumayan jauh. Membayangkan saya naik sepeda motor panas-panas di terik matahari. Bisa-bisa saya nanti garing kayak keripik rambak. Sama seperti saya, Anton si fotografer juga sama ogah-ogahan. Apalagi kalau harus membonceng gajah duduk. Bisa jadi peleg ban motornya jadi kocak nggak karuan.


Tapi saya bersyukur, tugas kali ini ditemani Pak Syaiful. Yang artinya dapat fasilitas bawa mobil kantor. Hueueueue…keren ! Suwun yo..Pak Say..


Perjalanan ini mengantarkan saya bertemu sosok Pak Soni. Pimpinan Kelompok Tani Mangrove Wonorejo-Rungkut Surabaya. Sosok yang sangat sederhana, tapi suka membagi ilmu kepada siapa saja. Orang yang tak pernah kehabisan ide untuk memanfaatkan hasil hutan magrove, pohon pantai yang dianggap tidak memiliki manfaat apa-apa bisa berfungsi ekonomis.

Salah satu buah yang bisa dimanfaatkan yaitu Soneratia (bogem), bisa diolah untuk sirup dan jenang dodol. ”Buah yang bisa diolah adalah buah masak dari pohon. Cirinya, buah tersebut jatuh langsung dari pohon, bukan sengaja dipetik,” jelas Soni. Buah bogem tidak bisa langsung diolah, ada proses khusus karena mengandung tanin. Getahnya mengandung racun. Harus dibersihkan, direndam baru kemudian direbus.


Untuk pembuatan jenang bogem, diolah dari daging buah bogem, tepung ketan, gula pasir, asam bensoat. Jenang isi 12 yang dikemas dengan pelepah pisang yang unik harganya Rp 10 ribu.



foto : Anton


Olahan lain yang juga istimewa yaitu sirup bogem. Bahan sirup ini juga diambil dari sari buah bogem. Untuk penyajianya, satu bagian sirup dicampur empat bagian air hangat. Boleh juga ditambahkan es batu. Rasanya benar-benar istimewa, campuran rasa manis berpadu dengan rasa asam yang dominan, malah memunculkan rasa segar berkepanjangan di tenggorokan. Selain itu, minuman unik khas pantai Timur ini kaya kandungan vitamin A,C, yodium dan anti oxidan.


Saya merasa beruntung, karena diajak blusukan masuk dapurnya, bahkan dia juga dengan mudahnya memberi tahu rahasia racikan jenang, sirup dan kopi yang diolah dari Bogem. Masyarakat disekitarnya, juga tidak lagi menggantungkan hidup dari tambak, karena rumah Soni selalu terbuka bagi masyarakat sekitar yang ingin maju dan belajar.


Dari sosok seorang petani sederhana ini, sungguh saya belajar semangat dan ketulusan yang terpancar hebat dari semangatnya untuk memberdayakan masyarakat sekitar. Sosok petani ini ibarat oase yang menyejukkan di Ujung Pantai Timur Surabaya. "master, angkat saya menjadi muridmu !" *berlutut.


Oleh-oleh khas Pantai Timur Surabaya

Kelompok Tari Mangrove Wonorejo - Rungkut

Jl Soneratia 2

Kelurahan Wonorejo Timur.

Thursday, September 10, 2009

Kupang Lontongku


Rata Tengah
Saya sekarang jualan Kupang Lontong

Pasti penasaran ya... , bagaimana ceritanya ? Inilah enaknya kalau punya teman seprofesi, karena diam-diam, saya sudah dipromosikan dulu oleh teman saya Mas Rohman. Soal foto makanan sudah ada Anton yang bantuin. Terima kasih buat dukungan teman-teman semua ya... saya tunggu pesanannya. Di Sini :)


Thursday, September 03, 2009

Preman Pasar Pabean

Kalah galak sama yang jual, saya dapat ikan bau kentut.

Karena lagi puasa, berhenti dulu cerita makan enak. Sekarang saya ajak jalan-jalan ke Pasar Ikan terbesar di Surabaya. Pasar Pabean.

Pasar ini merupakan transit berbagai hasil laut, dan tambak dari berbagai kota.
Kalau ke sini lebih baik sore, mulai jam 4 sore, ada banyak hasil laut segar yang bisa dipilih. Mulai udang, dorang, gurami, bandeng, banyar, kerapu, kepiting, kerang yang fresh dan harganya dijamin murah. Semuanya harus dilakukan cepat, kalau tidak mau keburu diborong oleh para tengkulak, dan pembeli lain yang rata-rata adalah pedagang ikan yang tersebar di berbagai pasar.


Saya punya pengalaman buruk, yang membuat saya sakit hati, bahkan tampang penjualnya sudah saya tandai pakai tengkorak disilang. *dendam Nyi blorong.

Ceritanya, saya mau nyari ikan seger. Pas lihat bodi ikan yang metekel, sontak saya jadi kepingin buat dijadikan ikan bakar. Saya niatnya cuma mau ambil satu ekor yang gede, tapi sama yang jual justru disodorin satu kilo ikan banyar.

“Mbak sekalian sama yang ini. Ambil dah !” katanya memaksa.
Saya sebenarnya sudah nggak yakin, apalagi lihat kondisi ikannya kok matanya rada pucet gitu.Eh pas saya protes, penjualnya malah marah.

”Ikan kalau ketangkep trus ditaruh es, ya pucet. Sama kayak mayit !!” *Walah, orangnya jadi sewot.

“Sudah, gini aja mbak, kalau ada tempat lain yang lebih murah, potong leher saya!” kata si penjual sambil nunjukin boding ke arah saya.

Saya makin takut diancam gitu. Si penjual ini semena-mena memasukkan ikan ke dalam kresek lalu ditimbang. Aduh, saya benar-benar terintimidasi. Nggak berkutik! Akhirnya saya serahkan uang 50 ribuan. Uang kembaliannya pun dilempar kasar di atas sisa kubangan ikan yang amis. Duh, saya jengkellllll banget. *Huuuuu….Percuma ya, punya badan gede, digertak bakul iwak ae nggak bisa apa-apa. mungsret

Diiringi senyum kemenangan si penjual, saya pun menyerah kalah. Pas di rumah, benar tebakan saya. Ikannya sudah bau dan lembek. Saya pun mengakali pake perasan air jeruk dan bawang putih yang banyak, trus saya bumbu pedess. Tapi dasar ikan bauuuu…digoreng pun lengket, dagingnya hancur.

Pas saya incipin, wadoh rasanya kok jadi sedep-sedep bau kentut. *Huahhh…balikin duit sayaaaaaaaa…….

Pasar Pabean
Pasar Ikan mulai pukul 4 sore
Jalan Panggung

Thursday, August 13, 2009

Tour Sepenuh Hati

Bertemu komunitas bango mania, pakai caping, memilah biji kedelai dan berfoto dengan Surya. Endingnya, berburu makanan enak sampai klengerr.



Jurnalis Surabaya, bersama komandan Bango Mania (Mas Radit), dan Surya Saputra
foto : Anton


Selalu ada kejutan Festival Jajanan Bango setiap tahunnya. Jika tahun lalu hadir tumpeng raksasa. Tahun ini ada dua kejutan. Yang pertama hadirnya kampung Bango, dan rujak Bango yang dibagikan gratis kepada semua pengunjung.


Serunya, saya sama teman-teman jurnalis, malah asyik foto-fotoan sama Mas Radit, Kepala Suku Bango Mania. Juga giliran Surya Saputra lewat, langsung saja ditodong buat foto bersama.


Puas foto-foto, akhirnya mulai berburu makanan enak. Asli saya bingung mau makan apa dulu. Akhirnya nyobain Kupat Tahu Gempol. Saya pikir, Gempol – Pasuruan, ternyata Gempol yang satu ini asalnya dari Bandung. Saya kaget banget pas lihat ukuran taugenya, gendut banget. Beda sama tauge/ cambah yang pernah saya tahu.


“Bu, taugenya kok gendut banget. Saya baru tahu lho !” *merasa mirip.

“Iya, neng. Ini tauge asli Bandung. Di Surabaya nggak ada !” kata si penjual.


Saya pun nyobain menu unik ini, isinya irisan kupat, tahu goreng, ditabur tauge gendut. Disiram bumbu kacang dan kerupuk warna merah sebagai pelengkapnya.

Rasanya, ternyata enak. Bumbunya kacangnya sedap banget, terasa gurih, manis dan dominan aroma daun jeruk. Hmm… ini merupakan petualang kuliner baru saya, menikmati Duta Bango dari Bandung, yaitu Kupat Tahu Gempol, yang menurut saya benar-benar jempol.


Tidak puas, saya lalu pindah ke sebelah ada yang jual Nasi Lengko, dari Tegal. Ini aneh lagi, nurut saya, lha sekilas kayak nasi iwak kerupuk. Ternyata di atas nasi, ada irisan timun, tauge, kerupuk yang diremes dan disiram dengan saus kacang. Rasanya, cukup rame.


Ada krenyes-krenyes kerupuk yang gurih dan irisan timun yang segar. Bumbunya, ada manis dari kecap, legit dari gula merah dan ada air asem. Wuihh... kaya bener rasanya tapi nggak tabrakan. Pas !


Tour kuliner saya masih berlanjut. Saya berhenti di Rujak Cingur Sedati. Kali ini saya melongo,bukan gara-gara lihat cobek yang super besar, tapi ada sebuah pigura besar terpampang. Dan di antara foto-foto itu, ada wajah saya yang gembul diambil pas acara pre event FJB.


“ Bu Nur, kok foto saya dipajang ?” *sok seleb.

“Nggak apa Mbak Manda, buat lucu-lucuan !” katanya sambil menahan senyum.

Idiih…. Saya disamain badut. Tapi nggak apa, moga-moga, foto saya bisa bikin rujak cingurnya tambah laris ya, Bu Nur. *serasa menjadi jimat.